Gaya Hidup dan Gaya Bahasa Dalam
Majalah Dewasa
Muhammad Surya Gumilang
Desember 2014
Ketika membahas tentang gaya hidup
maka topik gaya hidup tersebut juga akan
hadir di keilmuan yang bersifat sosial, lebih formal lagi dengan nama ilmu
sosiologi. Dalam ranah ilmu sosiologi
‘gaya hidup’ telah menawarkan sudut pandang baru dalam konsep gaya. Seperti yang dikatakan Zablocki dan Kante di
dalam artikelnya David Machine dan Theo
van Leeuwee (2005:577), mengungkapkan bahwa “‘Gaya Hidup’ mulai menggantikan
kelas sosial sebagai jenis utama pada pengelompokan sosial dan sumber dari
identitas sosial sebagai jenis utama pada pengelompokan sosial dan sumber dari
identitas sosial. Disini terlihat jelas bahwa ‘gaya hidup’ sanggup
merepresentasikan seseorang di kelas mana orang tersebut berada. Ketika
seseorang dengan penampilan kemeja rapi dan berdasi sedang makan di restauran,
akan berbeda permasalahannya ketika seseorang tersebut memakai jas dan berdasi
juga elegan tapi makan di tempat makan pedagang kaki lima.
Dengan begitu banyaknya penerbitan majalah dewasa di Indonesia yang menawarkan sebuah gaya hidup, maka wacana tentang gaya hidup ini ingin sekali saya uraikan. Karena setelah saya melihat langsung dilapangan, ternyata gaya hidup itu sudah menjadi bagian utuh yang tidak bisa dilepas dari kehidupan seseorang termasuk pada diri saya pribadi. Dengan itu maka gaya hidup sudah menjadi sebuah penanda yang merepresentasikan pribadi orang tersebut. Ketikabagaimana seharusnya saya disaat menjadi menjadi guru?, lainhalnya bagaimana seharusnya saya saat menjadi mahasiswa? juga sebagai laki-laki dewasa bagaimana seharusnya saya saat berhadapan dengan lawan jenis yang menarik?
Dengan begitu banyaknya penerbitan majalah dewasa di Indonesia yang menawarkan sebuah gaya hidup, maka wacana tentang gaya hidup ini ingin sekali saya uraikan. Karena setelah saya melihat langsung dilapangan, ternyata gaya hidup itu sudah menjadi bagian utuh yang tidak bisa dilepas dari kehidupan seseorang termasuk pada diri saya pribadi. Dengan itu maka gaya hidup sudah menjadi sebuah penanda yang merepresentasikan pribadi orang tersebut. Ketikabagaimana seharusnya saya disaat menjadi menjadi guru?, lainhalnya bagaimana seharusnya saya saat menjadi mahasiswa? juga sebagai laki-laki dewasa bagaimana seharusnya saya saat berhadapan dengan lawan jenis yang menarik?
Selain
penyelarasan dengan budaya setempat, majalah Cosmopolitan berupaya untuk mengikuti
trend yang sedang berkembang di dunia perempuan, seperti gerakan emansipasi.
Pembaca disuguhkan di edisi September 2001 dengan tokoh perempuan yang
menyokong gerakan tersebut seperti Nurul Arifin, seorang artis, ibu dua anak
dan aktivis perempuan yang aktif berkecimpung di dunia perpolitikan, penyuluh
AIDS, menjadi salah satu tokoh yang turut mewakili makna slogan fun fearless
female. Di sisi ini dengan menyuguhkan Nurul Ar ifin di dalam majalah, aktor
majalah Cosmopolitan tampak menyokong trend yang sedang bergulir karena dulu
perempuan dipandang lemah, termarjinal dan tersubordinasi (pandangan ini
merupakan konstruksi lama yang dibangun oleh sistem patriarki.Nurul Arifin de
ngan segudang atribut peran sosial dan politiknya di masyarakat merupakan
individu aktif yang bebas dan tidak takut (fearless) menyampaikan opininya
(dalam rubrik Ungkapan Hati) serta ceria ( fun) dalam menjalankan aktivitas
kesehariannya. Dengan demikian t erlihat bahwa majalah Cosmopolitan benar-benar
menyokong atas gerakan emansipasi yang mendukung konstruksi perempuan baru yang
dibuat majalah Cosmopolitan yang seolah meruntuhkan bangunan konstruksi lama
atas identitas perempuan. Yang menjadi pertanyaan ad alah apakah majalah
Cosmopolitan akan benarbenar konsisten dalam sokongannya? Saya menduga tidak.
(Leiliyanti, 2009:2)
Seperti
yang diutarakan oleh Eva Leiliyanti ternyata banyak sekali majalah- majalah
luar negeri yang beredar dibawah lisensi negara pusat penetbitannya. Misalkan
Bazaar majalah fashion perempuan
dewasa asal Amerika yang diterbitkan pertama di Amerika pada tahun 1867 yang
disebarkan ke 31 negara termasuk Indonesia ini memiliki lisensi dibawah Bazaar
Amerika Serikat. Majalah- majalah luar yang beredar ini menawarkan
muatan-muatan budaya seperti gaya hidup,
Seksualitas, fashion, kosmetika, dan
yang lainnya untuk kemudian
dibungkus dengan bahasa Indonesia dengan memperhatikan kode etik atau
tata krama dan sopan santun kearifan lokal yang dimasukinya. Contoh lainnya
misalkan dalam bulan Agustus atau dalam
hari kartini, nuansa lokal ditampilkan dengan nuansa merah juga motif ornamen
batik corak nusantara sebagai latar warna sampul majalah tersebut. Ini
merupakan upaya penyelarasan dengan hari kemerdekaan yang jatuh pada bulan
Agustus, juga merepresentasikan kepedulian majalah tersebut terhadap kearifan
lokal negara kita. Bahkan muatan religipun dihadirkan disaat perayaan
keagamaan, misalkan saja saat bulan ramadhan majalah menawarkan iklan-iklan
berbau religi islam, dengan gaya hidup islaminya, fashion islaminya, makanan
yang merepresentasikan makanan ramadhan dan yang lainnya yang kerapkali sering
disesuaikan dengan kondisi pasar dan mungkin saja sering memaksakan untuk
disangkutpautkan antara wacana yang satu ke wacana yang lain.
Dalam pembahasan ini saya akan fokus memaparkan tentang gaya hidup dan gaya linguistik dengan menerapkan teori David Machin dan Theo van Leeuwen mengenai gaya hidup yang saya transpormasikan ke wacana beberapa majalah dewasa yang hadir di Indonesia. Ada beberapa majalah yang saya baca secara langsung sebagai pembuktian kebenaran teori Machine dan Leeuwen, diantaranya adalah Cosmopolitan, Bazar, Female, Prodo, Chic, Femina, Kartini, Pesona, Idea, Good Husekeping, Rias Salon dan Aneka yess!. Disini setelah melihat beberapa majalah akan terlihat jelas kehadiran teori Gaya Hidup tersebut dan juga akan terlihat jelas untuk siapa majalah ini hadir. Tapi saya tidak memaparkan satu-persatu majalah tersebut, karena beberapa majalah sudah punya struktur/pola yang sama didalam isi majalah dewasa.
Dalam hal ini, majalah membantu mendorong masyarakat untuk mengikuti ideologi yang ditawarkan oleh majalah yang dibacanya tersebut. Seperti yang diungkapkan Machin dan Leeuwen (2005:579)“Majalah diciptakan untuk memanjakan perempuan yang ketakutan” melalui cara pembaca majalah itu berpenampilan, melalui espresi mereka, melalui ras dan tindakan mereka. Meskipun saya disini seorang laki-laki tapi ketakutan itu tetap saja ada, terutama takut pada keadaan fisik saya yang terlahir sebagai ras mongoloid berkulit hitam yang tidak seputih dan segagah para laki-laki yang terdapat pada majalah.
Saya telah mengumpulkan beberapa majalah dewasa Indonesia dengan nama/judul majalah yang berbeda-beda juga dengan waktu yang berbeda-beda juga, yang diantaranya ada majalah yang berasal dari luar negeri dengan menghadirkan wacana yang disesuaikan dengan keadaan di negara ini. Saya akan memperkenalkan terlebih dahulu tentang konsep gaya menurut teori Machine dan Leeuwen, selanjutnya bagaimana memperkenalkan tentang gaya linguistik dari majalah- majalah dewasa.
Dalam pembahasan ini saya akan fokus memaparkan tentang gaya hidup dan gaya linguistik dengan menerapkan teori David Machin dan Theo van Leeuwen mengenai gaya hidup yang saya transpormasikan ke wacana beberapa majalah dewasa yang hadir di Indonesia. Ada beberapa majalah yang saya baca secara langsung sebagai pembuktian kebenaran teori Machine dan Leeuwen, diantaranya adalah Cosmopolitan, Bazar, Female, Prodo, Chic, Femina, Kartini, Pesona, Idea, Good Husekeping, Rias Salon dan Aneka yess!. Disini setelah melihat beberapa majalah akan terlihat jelas kehadiran teori Gaya Hidup tersebut dan juga akan terlihat jelas untuk siapa majalah ini hadir. Tapi saya tidak memaparkan satu-persatu majalah tersebut, karena beberapa majalah sudah punya struktur/pola yang sama didalam isi majalah dewasa.
Dalam hal ini, majalah membantu mendorong masyarakat untuk mengikuti ideologi yang ditawarkan oleh majalah yang dibacanya tersebut. Seperti yang diungkapkan Machin dan Leeuwen (2005:579)“Majalah diciptakan untuk memanjakan perempuan yang ketakutan” melalui cara pembaca majalah itu berpenampilan, melalui espresi mereka, melalui ras dan tindakan mereka. Meskipun saya disini seorang laki-laki tapi ketakutan itu tetap saja ada, terutama takut pada keadaan fisik saya yang terlahir sebagai ras mongoloid berkulit hitam yang tidak seputih dan segagah para laki-laki yang terdapat pada majalah.
Saya telah mengumpulkan beberapa majalah dewasa Indonesia dengan nama/judul majalah yang berbeda-beda juga dengan waktu yang berbeda-beda juga, yang diantaranya ada majalah yang berasal dari luar negeri dengan menghadirkan wacana yang disesuaikan dengan keadaan di negara ini. Saya akan memperkenalkan terlebih dahulu tentang konsep gaya menurut teori Machine dan Leeuwen, selanjutnya bagaimana memperkenalkan tentang gaya linguistik dari majalah- majalah dewasa.
Tiga Macam Gaya Menurut David Machin
dan Theo van Leeuwen (2005)
|
|
- Gaya Individual
- Gaya Sosial
- Gaya Hidup
Dalam
pembahasan ini saya akan memaparkan kesesuaian tiga macam gaya yang telah
dibangun oleh Machine dan Leeuwen dengan melihat majalah – majalah dewasa yang
ada di Indonesia. Saya tidak akan terlalu membahas Eklusif atau tidaknya
pembahasan ini, karena ketika di Indonesia pada saat ini mengalami pergeseran
gaya hidup bahkan berubah, mungkin harus ada rekontruksi teori baru dan praktek
baru yang memang benar –benar bisa dikombinasikan dengan permasalan gaya hidup
yang ada di negara kita yang di representasikan salah satunya ke dalam majalah dewasa. Sehingga teori gaya
hidup tersebut bisa mewakili suatu wilayah dimana mungkinsaja wilayah tersebut
sudah banyak pengaruh ideologi dari negara lain, sehingga akan ada sebuah relasi/ hubungan yang bisa menjadi
bingkai di dalam teori tersebut untuk melahirkan sebuah praktek.
Ketiga unsur dari gaya hidup tersebut sudah mampu mengartikulasikan juga membuat sebuah hubungan antara sebuah kebebasan yang bersifat indifidual dan penentuan sebuah status sosial, bahkan ketiga unsur tersebut memiliki ranah dan jalan yang berbeda. Ada satu hal yang menggelitik pikiran saya ketika saya membaca majalah- majalah dewasa yang diterbitkan di Indonesia yang saya dapatkan tersebut, yang membuat saya menggelitik bahkan tertarik adalah ketika majalah- majalah dewasa tersebut memiliki sebuah struktur yang sama dalan membangun sebuah wacana yang menghadirkan fitur konsumerisme, disana ada sebuah penghadiran dimana kita bisa mendapatkan pakaian pakaian dan produk-produk yang ditampilkan disana, yang memiliki sebuah makna yang terkait, seperti sebuah makna identitas dengan merasa bahwa produk yang ditampilkan disana mewakili ekspresi siapa diri kita sebagai seorang individu. Anehnya di dalam waktu yang sama juga kesadaranpun muncul bahwa produk yang saya pilih dalam majalah tersebut adalah produk yang sama dikonsimsi atau digunakan oleh banyak orang yang ada di Indonesia bahkan di Dunia. Jadi tiga pendekatan gaya tersebut bisa menjadi sebuah sudut pandang yang bisa membantu kita untuk berfikir bagaimana tentang bagaimana cara ini bisa bekerja.
Ketiga unsur dari gaya hidup tersebut sudah mampu mengartikulasikan juga membuat sebuah hubungan antara sebuah kebebasan yang bersifat indifidual dan penentuan sebuah status sosial, bahkan ketiga unsur tersebut memiliki ranah dan jalan yang berbeda. Ada satu hal yang menggelitik pikiran saya ketika saya membaca majalah- majalah dewasa yang diterbitkan di Indonesia yang saya dapatkan tersebut, yang membuat saya menggelitik bahkan tertarik adalah ketika majalah- majalah dewasa tersebut memiliki sebuah struktur yang sama dalan membangun sebuah wacana yang menghadirkan fitur konsumerisme, disana ada sebuah penghadiran dimana kita bisa mendapatkan pakaian pakaian dan produk-produk yang ditampilkan disana, yang memiliki sebuah makna yang terkait, seperti sebuah makna identitas dengan merasa bahwa produk yang ditampilkan disana mewakili ekspresi siapa diri kita sebagai seorang individu. Anehnya di dalam waktu yang sama juga kesadaranpun muncul bahwa produk yang saya pilih dalam majalah tersebut adalah produk yang sama dikonsimsi atau digunakan oleh banyak orang yang ada di Indonesia bahkan di Dunia. Jadi tiga pendekatan gaya tersebut bisa menjadi sebuah sudut pandang yang bisa membantu kita untuk berfikir bagaimana tentang bagaimana cara ini bisa bekerja.
Ide dari gaya Individual yang telah
diangkat oleh Machine dan Leeuwen ini
berangkat dari sebuah latar perbedaan individual. Gaya individual ini lebih
menekankan bagaimana identitas gaya pada diri kita itu tetap hadir meski hal
tersebut adalah buah hasil berbagai macam juga banyaknya ideologi- ideologi yang masuk pada diri kita
sehingga mampu membangun diri seseorang tersebut. Misalnya saja meskipun cara
saya berbicara, bertingkahlaku dan menulis selalu sampai batas tertentu atau
sebuah struktur yang sudah diatur secara sosial, tetapi biasanya ada sebuah
ruang yang hadir yang menampilkan sebuah perbedaan individual, untuk melakukan
sesutu dengan cara kita. Roman telah berkata di dalam jurnal tulisan Machine
dan Leeuwen yaitu stilum virum arguit ( gaya mengumumkan/ menunjukan seorang
pria ), Seperti halnya sebuah tulisan tangan yang sudah memiliki aturan atau
ketetapan cara penulisannya secara baku, tetai setiap orang memiliki bentuk
karakter huruf yang ditulisnya itu beragam atau berbeda-beda, sehingga tulisan
tangan tersebut dapat dikenali individunya. Gaya individual juga memiliki
sebuah peran yang sangat kuat dalam literatur seperti pada karya- karya seni
rupa misalnya pada karya seni lukis dimana pada karya seni lukis setiap seniman
atau pelaku seni memiliki karakter yang berbeda- beda yang merepresentasikan
kesenimanannya meskipun itu disadari atau tidak oleh seniman tersebut.
Menurut Guiraud yang dituliskan Machine dan Leeuween (2005) “The stylistics of expression is a study of the stylistic value of means of expression. There are expressive values which give away the feelings, desires, characteristics and social origin of the speaking subject, and there are impressive values which are deliberately produced and get across the impression the speaking subject seeks to creat”. Dia menjelaskan tentang bagaimana stylistics of expression itu hadir memberikan sebuah nilai- nilai ekspresi yang menawarkan sebuah kedekatan berupa perasaan, keinginan dan juga asal sosial orang tersebut sehingga bisa menimbulkan sebuah kesan terhadap orang lain.
Seberapa bermaknakah gaya individual? Dalam tulisan Machine dan Leeuwen di utarakan beberapa orang tidak. Bagi mereka, gaya individual adalah sebuah tanda dari identitas, sebuah jenis dari sidik jari, bahkan ketika mendengar bagaimana gaya bicara seseorang maka suara yang keluarnya tersebut sudah menjadi sebuah identitas dan sebuah penanda, gaya menulis bisa diketahui siapa penulisnya, gaya melukis bisa diketahui siapa pelukisnya juga yang lainnya. Dalam beberapa kasus keahlian atau keilmuan untuk mengetahui sebuah gaya individual itu sudah menjadi sebuah pekerjaan keahlian, misalnya para kurator seni, kritikus seni yang mengetahui bagaimana sebuah identitas atau makna dibalik karya seni yang akan di apresiasikan kepada publik atau kepada apresiator, juga seorang polisi bisa menyelidiki lebih dalam terhadap kasus yang sangat rumit untuk mencari kebenaran dalam polemik pencarian para kriminal.
Seperti dalam majalah, gaya mampu menghadirkan sebuah ideologi yang ditawarkan untuk para pembacanya. Sama halnya dengan sebuah identitas majalahpun memiliki sebuah tanda dan identitas. Meskipun kesamaan pada setiap majalah itu hadir dalam bingkai strukturalism, tapi makna tidak selamanya berada didalam kotak struktur tersebut, seperti sama halnya ketika orang menulis meskipun strukturnya sama tapi tindakan penulisannya itu akan melahirkan sesuatu yang berbeda. Jadi makna di dalam setiap majalah yang berada dalam sebuah struktur tersebut menghadirkan warna yang berbeda-beda yang dimana warna tersebut mampu merepresentasikan majalah tersebut. Misalnya saja kalau melihat majalah Femina dan majalah Kartini pada strukturnya sama saja, tetapi kedua majalah itu memiliki ideologi yang berbeda, femina menghadirkan bagaimana perempuan Indonesia secara umum tapi beda halnya dengan majalah Kartini, dimana majalah tersebut lebih menghadirkan karakter kearifan lokalnya.
Menurut Guiraud yang dituliskan Machine dan Leeuween (2005) “The stylistics of expression is a study of the stylistic value of means of expression. There are expressive values which give away the feelings, desires, characteristics and social origin of the speaking subject, and there are impressive values which are deliberately produced and get across the impression the speaking subject seeks to creat”. Dia menjelaskan tentang bagaimana stylistics of expression itu hadir memberikan sebuah nilai- nilai ekspresi yang menawarkan sebuah kedekatan berupa perasaan, keinginan dan juga asal sosial orang tersebut sehingga bisa menimbulkan sebuah kesan terhadap orang lain.
Seberapa bermaknakah gaya individual? Dalam tulisan Machine dan Leeuwen di utarakan beberapa orang tidak. Bagi mereka, gaya individual adalah sebuah tanda dari identitas, sebuah jenis dari sidik jari, bahkan ketika mendengar bagaimana gaya bicara seseorang maka suara yang keluarnya tersebut sudah menjadi sebuah identitas dan sebuah penanda, gaya menulis bisa diketahui siapa penulisnya, gaya melukis bisa diketahui siapa pelukisnya juga yang lainnya. Dalam beberapa kasus keahlian atau keilmuan untuk mengetahui sebuah gaya individual itu sudah menjadi sebuah pekerjaan keahlian, misalnya para kurator seni, kritikus seni yang mengetahui bagaimana sebuah identitas atau makna dibalik karya seni yang akan di apresiasikan kepada publik atau kepada apresiator, juga seorang polisi bisa menyelidiki lebih dalam terhadap kasus yang sangat rumit untuk mencari kebenaran dalam polemik pencarian para kriminal.
Seperti dalam majalah, gaya mampu menghadirkan sebuah ideologi yang ditawarkan untuk para pembacanya. Sama halnya dengan sebuah identitas majalahpun memiliki sebuah tanda dan identitas. Meskipun kesamaan pada setiap majalah itu hadir dalam bingkai strukturalism, tapi makna tidak selamanya berada didalam kotak struktur tersebut, seperti sama halnya ketika orang menulis meskipun strukturnya sama tapi tindakan penulisannya itu akan melahirkan sesuatu yang berbeda. Jadi makna di dalam setiap majalah yang berada dalam sebuah struktur tersebut menghadirkan warna yang berbeda-beda yang dimana warna tersebut mampu merepresentasikan majalah tersebut. Misalnya saja kalau melihat majalah Femina dan majalah Kartini pada strukturnya sama saja, tetapi kedua majalah itu memiliki ideologi yang berbeda, femina menghadirkan bagaimana perempuan Indonesia secara umum tapi beda halnya dengan majalah Kartini, dimana majalah tersebut lebih menghadirkan karakter kearifan lokalnya.
Ide yang dihadirkan pada gaya sosial
ini berangkat dari penentuan identitas sosial melalui gaya, wacana tersebut
bersifat ekspresif, bukan permasalahan kepribadian dan bukan pula sebuah sikap
individual seperti yang dijelaskan pada gaya individual, tetapi lebih mengarah
pada bagaimana posisi sosial kita. Ketika saya beraktifitas, bekerja maka saya
harus bisa memposisikan dri saya pada ruang sosial dimana saya berada. Selain
sebuah kode etik sosial ada juga sebuah aturan sosial yang jelas dan mengikat
yang mengarahkan kita untuk mengikuti aturan tersebut. Jadi pada dasarnya gaya
sosial ini sudah jelas terlihat bahwa sebuah gaya tersebut lahir dari luar diri
kita yang akan mendorong dam menjadi sebuah kontrol pada bagaimana kita
bertindak.
Banyak sekali majalah dewasa yang dihadirkan di masyarakat kita, tetapi majalah- majalah tersebut tidak sedikit yang berasal dari luar masyarakat kita atau lebih jelasnya dari luar negeri. Dengan demikian tidak bisa dipungkiri ideologi yang ditawarkan oleh majalah tersebut yaitu representasi sosial dimana majalah tersebut berasal. Saya disini mengambil sample majalah Bazar dan cosmopolitan, di majalah tersebut sangat jelas merepresentasikan tentang ras negaranya, setiap cover yang dicetak nya pasti menampilkan gaya sosial orang kulit putih dengan model orang kulit putih, meskipun sedah dialih bahasakan dan memuat wacana-wacana masyarakat negara tempat diterbitkannya. Meskipun demikian kuasa yang ada didalam majalah tersebut tidak sepenuhnya bisa terealisasikan , karena bagaimanapun juga sebuah relasi itu harus hadir, relasi disini yaitu ada sebuah kuasa lain diluar majalah tersebut yaitu hukum sosial yang mengikat dan tegak yang tidakbisa lagi dikompromikanlagi. Jadi tetap saja bagaimanapun majalah dewasa yang terlahir dari luar begeri itu hadir ditengah masyarakat kita, benang merah itupun akan senantiasa hadir.
Banyak sekali majalah dewasa yang dihadirkan di masyarakat kita, tetapi majalah- majalah tersebut tidak sedikit yang berasal dari luar masyarakat kita atau lebih jelasnya dari luar negeri. Dengan demikian tidak bisa dipungkiri ideologi yang ditawarkan oleh majalah tersebut yaitu representasi sosial dimana majalah tersebut berasal. Saya disini mengambil sample majalah Bazar dan cosmopolitan, di majalah tersebut sangat jelas merepresentasikan tentang ras negaranya, setiap cover yang dicetak nya pasti menampilkan gaya sosial orang kulit putih dengan model orang kulit putih, meskipun sedah dialih bahasakan dan memuat wacana-wacana masyarakat negara tempat diterbitkannya. Meskipun demikian kuasa yang ada didalam majalah tersebut tidak sepenuhnya bisa terealisasikan , karena bagaimanapun juga sebuah relasi itu harus hadir, relasi disini yaitu ada sebuah kuasa lain diluar majalah tersebut yaitu hukum sosial yang mengikat dan tegak yang tidakbisa lagi dikompromikanlagi. Jadi tetap saja bagaimanapun majalah dewasa yang terlahir dari luar begeri itu hadir ditengah masyarakat kita, benang merah itupun akan senantiasa hadir.
Gaya hidup berperan lebih
menggabungkan antara gaya individual dengan gaya sosial. Sikap dan kesamaan
adalah kata kuci dari gaya hidup ini, misalkan kesamaan sikap didalam masalah
lingkungan, kesamaan sikap didalam menanggapi polemik politik, kesamaan sikap
dalam merespon tayangan yang ada di media sosial dan yang lainnya. Seperti kata
Chaney di dalam tulisan Machine dan Leeuwen
mengatakan gaya hidup juga adalah sosial karena hal tersebut telah
ditandai dengan penampilan, jadi hal itu tentang sikap, dan menyampaikan gaya
dalam berpakaian dan berdandan, dekorasi, dan dalam hal lainnya.
Berpenampilan selalu menjadi fokus utama didalam majalah dewasa, terlihat jelas ketika melihat cover majalah, maka akan terlihat bagaimana model tersebut berpenampilan dan bergaya seolah mengajak untuk membeli majalah tersebut. Seperti yang diucapkan oleh Bu Aquarini Priyatna dalam kuliahnya ketika membahas persoalan bagaimana produk mampu membeli seorang perempuan, disini tampak sangat jelas dimana orang membeli majalah dan majalah tersebut membeli orang khususnya membeli kuasa terhadap model yang akan dihadirkan oleh majalah tersebut.
Berpenampilan selalu menjadi fokus utama didalam majalah dewasa, terlihat jelas ketika melihat cover majalah, maka akan terlihat bagaimana model tersebut berpenampilan dan bergaya seolah mengajak untuk membeli majalah tersebut. Seperti yang diucapkan oleh Bu Aquarini Priyatna dalam kuliahnya ketika membahas persoalan bagaimana produk mampu membeli seorang perempuan, disini tampak sangat jelas dimana orang membeli majalah dan majalah tersebut membeli orang khususnya membeli kuasa terhadap model yang akan dihadirkan oleh majalah tersebut.
Ketika saya melihat gaya bahasa pada tulisan majalah-majalah dewasa, dan juga ketika bagaimana sebuah
majalah sebagai wujud gaya hidup, saya akan mempertanyakan hal yang sama
seperti yang dipertanyakan Machin dan
leeuwee (2012:587) ”how can this style be
described as a‘composite of connotations’, and what identities and values does
it express?” dan “ow diverse is this style? How does it negotiate between the
individual and the social, or, in this case, the local and the global?”,
karena pertanyaan tersebut sangat mewakili kegelisan pertanyaan-pertanyaan saya
di wilayah gaya bahasa sebagai gaya hidup yang lebih global. Beragamnya gaya
bahasa memiliki makna tersendiri juga memiliki ideologi tersendiri yang akan di
konsumsi oleh para pembacanya. Yang membuat saya menarik dari pertanyaan
tersebut adalah adanya sebuah relasi atau hubungan bagaimana bahasa individual
dapat diterima oleh gaya bahasa masyarakat sosial juga bagaimana
mengkorelasikan antara gaya bahasa yang bersifat lokal dan gaya bahasa yang
bersifat global.
Sebagaimana dikemukakan Machin dan Leeuwee (2012:587) bahwa “The principal styles on which Cosmopolitan draws are (1) the style of advertising, (2) the style of the fashion caption, (3) the style of expert discourse, (4) street style – the slang of the trendy, and the young; and (5) conversational style. These mix to different degrees with traditional magazine feature-writing style (the traditional, socially ‘appropriate’ style for magazines), in the same way that lifestyle dress may be combined with, or tempered by, for instance, traditional ‘white-collar’ work dress”. Disini telah diuraikan bagaimana membaca struktur gaya bahasa di dalam majalah dewasa. Memang disana Machin dan Leeuween memetakan struktur majalah Cosmopolitan, tetapi menurut Yasraf Amir Piliang dalam kuliah umumnya tentang Hipersemiotika yang saya lihat di youtube, beliau mengatakan bahwa “semiotika strukturalisme adalah pandangan semiotika bahwa bahasa dan tanda dibangun oleh struktur yang tetap, mengikat, kesatuan (unity), berulang dan tidak berubah, hal tersebut juga saya dapat pada ceramah Aquarini Priyatna pada saat perkuliahan Media, Ideologi, dan Politik Representasi mengungkapkan bahwa “ Acara televisi seperti Hitam Putih, Ini Talk Show ataupun Sarahsehan memang itu tayangan yang berbeda, tapi memiliki struktur yang sama”. Jadi pada dasarnya teori yang ditawarkan oleh Machin dan Leeuween ini mungkin bisa saja mewakili majalah-majalah dewasa yang beredar di Indonesia.
Sebagaimana dikemukakan Machin dan Leeuwee (2012:587) bahwa “The principal styles on which Cosmopolitan draws are (1) the style of advertising, (2) the style of the fashion caption, (3) the style of expert discourse, (4) street style – the slang of the trendy, and the young; and (5) conversational style. These mix to different degrees with traditional magazine feature-writing style (the traditional, socially ‘appropriate’ style for magazines), in the same way that lifestyle dress may be combined with, or tempered by, for instance, traditional ‘white-collar’ work dress”. Disini telah diuraikan bagaimana membaca struktur gaya bahasa di dalam majalah dewasa. Memang disana Machin dan Leeuween memetakan struktur majalah Cosmopolitan, tetapi menurut Yasraf Amir Piliang dalam kuliah umumnya tentang Hipersemiotika yang saya lihat di youtube, beliau mengatakan bahwa “semiotika strukturalisme adalah pandangan semiotika bahwa bahasa dan tanda dibangun oleh struktur yang tetap, mengikat, kesatuan (unity), berulang dan tidak berubah, hal tersebut juga saya dapat pada ceramah Aquarini Priyatna pada saat perkuliahan Media, Ideologi, dan Politik Representasi mengungkapkan bahwa “ Acara televisi seperti Hitam Putih, Ini Talk Show ataupun Sarahsehan memang itu tayangan yang berbeda, tapi memiliki struktur yang sama”. Jadi pada dasarnya teori yang ditawarkan oleh Machin dan Leeuween ini mungkin bisa saja mewakili majalah-majalah dewasa yang beredar di Indonesia.
The style of advertising atau disebut
juga sebagai gaya iklan, pada kenyataannya hal
tersebut tidak hanya untuk menjual
sebuah produk dan jasa saja, dibalik itu atau lebih dalamnya lagi gaya iklan
ini menghadirkan wacanal identitas dan nilai-nilai masyarakat konsumen.
Aquarini Priyatna, beliau mengutarakan tentang bagaimana gaya iklan itu hadir di
produk handphone yang bermerk sony ericson, visualisasi iklan tersebut
memperlihatkan seorang perempuan yang seksi menggantungkan handphone tersebut
pas dibelahan dadanya. Dalam iklan itu terdapat sebuah polemik handphone yang
dibeli oleh masyarakat, tetapi dibalik itu ada perempuan yang dibeli oleh
handphone itu. Dalam hal tersebut menunjukan bahwa peran iklan itu bukan hanya
memperkenalkan atau menawarkan sebuah produk
dan jasa saja, tapi sudah menawarkan sebuah identitas dan ideologi
terhadap publik. Secara lebih jelasnya lagi ketika saya membeli handphone
tersebut maka seakan saya ada sebuah kedekatan atau hubungan dengan perempuan
yang ada di dalam iklan yang dihadirkan tersebut.
Advertising Style pada majalah-majalah dewasa kerap kali disajikan , misalkan dalam satu majalah berapa merk produk kecantikan yang dihadirkan?, dalam satu majalah berapa merk baju yang ditawarkan? Meskipun pada umumnya majalah dewasa memiliki struktur isi yang sama seperti Seksualitas, pekerjaan, tokoh, kesehatan, ramalan, fashion dan make up, disanalah advertising style berperan membangun dan memperkuat setiap struktur yang sudah dihadirkan tersebut.
Advertising Style pada majalah-majalah dewasa kerap kali disajikan , misalkan dalam satu majalah berapa merk produk kecantikan yang dihadirkan?, dalam satu majalah berapa merk baju yang ditawarkan? Meskipun pada umumnya majalah dewasa memiliki struktur isi yang sama seperti Seksualitas, pekerjaan, tokoh, kesehatan, ramalan, fashion dan make up, disanalah advertising style berperan membangun dan memperkuat setiap struktur yang sudah dihadirkan tersebut.
Saya atau
bahkan sejumlah orang lainnya memang sengaja, tapi kadang juga tidak sadar ,
memilih pakaian yang sesuai dengan representasi identitas dirinya. Yang saya
maksud disini adalah gaya berpakaian, bukan cara berpakaianmenurut tren mode.
Dengan gaya berpakaian kita dapat melihat mana seorang mahasiswa yang keilmuannya
di bidang satra dan mana mahasiswa yang keilmuannya di bidang geologi. Dengan
gaya berpakaian saya dapat melihat mana pejabat kampus, mana mahasiswa dan mana
petugas kebersihan kampus.
Barthes
dalam Machin dan Leeuwee (2012: 593) mengutarakan bahwa “the fashion caption is a ‘metalinguistic’ statement, an entry from an
ongoing, constantly changing and playfully written dictionary of fashion. It
links a signifier (an outfit, or an item of clothing, or some aspect of it,
e.g. a colour) to a signified, in this case, to either or both of two kinds of
signified: (a) the simple assertion ‘This is in fashion’, which can be phrased
in a myriad of ways (e.g. ‘the season’s hottest’, ‘feel “fall 2002”, ‘the
season must-have’), and/or (b) a meaning which either indicates, for instance,
the type of activities or the time of day for which the outfit is suitable (‘a
low-key date at the movies or a dive bar’), and/or a ‘mood’ or ‘personality trait’
(‘dramatic’, ‘passionate’, feeling cosy’, ‘foxy’, ‘sweet’, ‘sexy’, ‘lovely’).
And it does so in a way which is ‘imperative’ (‘must have’) and inescapable, an
edict that must be followed, yet at the same time playful and pleasurable
(‘hottest hue’, ‘feel fall’, ‘look lovely on a low-key . . . ’), so that the
fashion caption, like advertising style, is a proto form of ‘edutainment’, of
learning what to do in a playful, pleasurable and entertaining way. Originally
confined to actual fashion spreads, the style of the fashion caption, with its
function of introducing people to the latest symbolic meanings of consumption
goods, has now infiltrated many other domains, so as to connote, wherever it
goes, the overriding importance of being in fashion and up to date with the
latest”.
Pada setiap majalah dewasa
masing-masing majalah menghadirkan gaya bnerpakaian yang berbeda-beda, seolah
menunjukan sebuah kelas dan identitas
tersendiri. Ketika saya melihat bagaimana gaya berpakaian di majalah
Prodo, sangat jauh sekali ketika saya melihat gaya berpakaian yang terdapat
dimajalah Bazaar. Prodo memperlihatkan bagaimana seorang perempuan bergaya
pakaian yang menarik dan seksi, beda halnya dengan majalah Bazaar menampilkan
gaya berpakaian yang merepresentasikan perempuan kelas atas.
Setelah saya mengkaji tentang gaya bahasa dan gaya hidup pada beberapa majalah dewasa yang dihadirkan di Indonesia, pada akhirnya saya mengetahui betapa berpengaruhnya dampak dari sebuah majalah terhadap gaya hidup bahkan ideologi masyarakat pada dewasa ini. Tetapi ketika melihat perkembangan tekhologi yang begitu pesatnya, setelah banyaknya media baru yang ditawarkan terhadap masyarakat seperti halnya media sosial di internet. Apakah sebuah majalah akan tetap bertahan? Ataukah ada sebuah pergeseran bahkan evolusi pada tampilan majalah tersebut, sehingga membentuk sbuah struktur baru dan gaya hidup baru?
Setelah saya mengkaji tentang gaya bahasa dan gaya hidup pada beberapa majalah dewasa yang dihadirkan di Indonesia, pada akhirnya saya mengetahui betapa berpengaruhnya dampak dari sebuah majalah terhadap gaya hidup bahkan ideologi masyarakat pada dewasa ini. Tetapi ketika melihat perkembangan tekhologi yang begitu pesatnya, setelah banyaknya media baru yang ditawarkan terhadap masyarakat seperti halnya media sosial di internet. Apakah sebuah majalah akan tetap bertahan? Ataukah ada sebuah pergeseran bahkan evolusi pada tampilan majalah tersebut, sehingga membentuk sbuah struktur baru dan gaya hidup baru?
Daftar Pustaka
Machin,David. Leeuwen,Theo van. Juni
2005, “Language style and lifestyle:
the case of a global magazine”. Media, Culture & Society
Leiliyanti,Eva.April 2009, “Konstruksi Identitas Perempuan dalam
Majalah Cosmopolitan”.
Perpustakaan Universitas Indonesia. http://lib.ui.ac.id/opac/themes/green/detail.jsp?id=20250598&lokasi=lokal, 16
Desember 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar