Minggu, 19 April 2015

Gaya Hidup dan Gaya Bahasa Dalam Majalah Dewasa



Gaya Hidup dan Gaya Bahasa Dalam 

Majalah Dewasa

 

Muhammad Surya Gumilang


Desember 2014




Ketika membahas tentang gaya hidup maka topik  gaya hidup tersebut juga akan hadir di keilmuan yang bersifat sosial, lebih formal lagi dengan nama ilmu sosiologi.  Dalam ranah ilmu sosiologi ‘gaya hidup’ telah menawarkan sudut pandang baru dalam konsep gaya.  Seperti yang dikatakan Zablocki dan Kante di dalam artikelnya David Machine  dan Theo van Leeuwee (2005:577), mengungkapkan bahwa “‘Gaya Hidup’ mulai menggantikan kelas sosial sebagai jenis utama pada pengelompokan sosial dan sumber dari identitas sosial sebagai jenis utama pada pengelompokan sosial dan sumber dari identitas sosial. Disini terlihat jelas bahwa ‘gaya hidup’ sanggup merepresentasikan seseorang di kelas mana orang tersebut berada. Ketika seseorang dengan penampilan kemeja rapi dan berdasi sedang makan di restauran, akan berbeda permasalahannya ketika seseorang tersebut memakai jas dan berdasi juga elegan tapi makan di tempat makan pedagang kaki lima.
                Dengan begitu banyaknya penerbitan majalah dewasa di Indonesia yang menawarkan sebuah gaya hidup, maka wacana tentang gaya hidup ini  ingin sekali saya uraikan. Karena setelah saya melihat langsung dilapangan, ternyata gaya hidup itu sudah menjadi bagian utuh yang tidak bisa dilepas dari kehidupan seseorang termasuk pada diri saya pribadi. Dengan itu maka gaya hidup sudah menjadi sebuah penanda yang merepresentasikan pribadi orang tersebut. Ketikabagaimana seharusnya saya disaat menjadi menjadi guru?, lainhalnya bagaimana seharusnya saya saat menjadi mahasiswa? juga sebagai laki-laki dewasa bagaimana seharusnya saya saat berhadapan dengan lawan jenis yang menarik?
Selain penyelarasan dengan budaya setempat, majalah Cosmopolitan berupaya untuk mengikuti trend yang sedang berkembang di dunia perempuan, seperti gerakan emansipasi. Pembaca disuguhkan di edisi September 2001 dengan tokoh perempuan yang menyokong gerakan tersebut seperti Nurul Arifin, seorang artis, ibu dua anak dan aktivis perempuan yang aktif berkecimpung di dunia perpolitikan, penyuluh AIDS, menjadi salah satu tokoh yang turut mewakili makna slogan fun fearless female. Di sisi ini dengan menyuguhkan Nurul Ar ifin di dalam majalah, aktor majalah Cosmopolitan tampak menyokong trend yang sedang bergulir karena dulu perempuan dipandang lemah, termarjinal dan tersubordinasi (pandangan ini merupakan konstruksi lama yang dibangun oleh sistem patriarki.Nurul Arifin de ngan segudang atribut peran sosial dan politiknya di masyarakat merupakan individu aktif yang bebas dan tidak takut (fearless) menyampaikan opininya (dalam rubrik Ungkapan Hati) serta ceria ( fun) dalam menjalankan aktivitas kesehariannya. Dengan demikian t erlihat bahwa majalah Cosmopolitan benar-benar menyokong atas gerakan emansipasi yang mendukung konstruksi perempuan baru yang dibuat majalah Cosmopolitan yang seolah meruntuhkan bangunan konstruksi lama atas identitas perempuan. Yang menjadi pertanyaan ad alah apakah majalah Cosmopolitan akan benarbenar konsisten dalam sokongannya? Saya menduga tidak. (Leiliyanti, 2009:2)
Seperti yang diutarakan oleh Eva Leiliyanti ternyata banyak sekali majalah- majalah luar negeri yang beredar dibawah lisensi negara pusat penetbitannya. Misalkan Bazaar majalah fashion perempuan dewasa asal Amerika yang diterbitkan pertama di Amerika pada tahun 1867 yang disebarkan ke 31 negara termasuk Indonesia ini memiliki lisensi dibawah Bazaar Amerika Serikat. Majalah- majalah luar yang beredar ini menawarkan muatan-muatan budaya seperti  gaya hidup, Seksualitas, fashion, kosmetika, dan  yang lainnya untuk kemudian  dibungkus dengan bahasa Indonesia dengan memperhatikan kode etik atau tata krama dan sopan santun kearifan lokal yang dimasukinya. Contoh lainnya misalkan  dalam bulan Agustus atau dalam hari kartini, nuansa lokal ditampilkan dengan nuansa merah juga motif ornamen batik corak nusantara sebagai latar warna sampul majalah tersebut. Ini merupakan upaya penyelarasan dengan hari kemerdekaan yang jatuh pada bulan Agustus, juga merepresentasikan kepedulian majalah tersebut terhadap kearifan lokal negara kita. Bahkan muatan religipun dihadirkan disaat perayaan keagamaan, misalkan saja saat bulan ramadhan majalah menawarkan iklan-iklan berbau religi islam, dengan gaya hidup islaminya, fashion islaminya, makanan yang merepresentasikan makanan ramadhan dan yang lainnya yang kerapkali sering disesuaikan dengan kondisi pasar dan mungkin saja sering memaksakan untuk disangkutpautkan antara wacana yang satu ke wacana yang lain.
                Dalam pembahasan ini saya akan fokus memaparkan tentang gaya hidup dan gaya linguistik dengan menerapkan teori David Machin dan Theo van Leeuwen mengenai gaya hidup yang saya transpormasikan ke wacana beberapa majalah dewasa yang hadir di Indonesia. Ada beberapa majalah yang saya baca secara langsung sebagai pembuktian kebenaran teori Machine dan Leeuwen,  diantaranya adalah Cosmopolitan, Bazar, Female, Prodo, Chic, Femina, Kartini, Pesona, Idea, Good Husekeping, Rias Salon dan Aneka yess!. Disini setelah melihat beberapa majalah akan terlihat jelas kehadiran teori Gaya Hidup tersebut dan juga akan terlihat jelas untuk siapa majalah ini hadir. Tapi saya tidak memaparkan satu-persatu majalah tersebut, karena beberapa majalah sudah punya struktur/pola yang sama didalam isi majalah dewasa.
                Dalam hal ini,  majalah membantu mendorong masyarakat untuk mengikuti ideologi yang ditawarkan oleh majalah yang dibacanya tersebut. Seperti yang diungkapkan Machin dan Leeuwen (2005:579)“Majalah diciptakan untuk memanjakan perempuan yang ketakutan” melalui cara pembaca majalah itu berpenampilan, melalui espresi mereka, melalui ras dan tindakan mereka. Meskipun saya disini seorang laki-laki tapi ketakutan itu tetap saja ada, terutama takut pada keadaan fisik saya yang terlahir sebagai ras mongoloid berkulit hitam yang tidak seputih dan segagah para laki-laki yang terdapat pada majalah.
                Saya telah mengumpulkan beberapa majalah dewasa Indonesia dengan nama/judul majalah yang berbeda-beda juga dengan waktu yang berbeda-beda juga, yang diantaranya ada majalah yang berasal dari luar negeri dengan menghadirkan wacana yang disesuaikan dengan keadaan di negara ini. Saya akan memperkenalkan terlebih dahulu  tentang konsep gaya menurut teori Machine dan Leeuwen, selanjutnya bagaimana memperkenalkan tentang gaya linguistik dari majalah- majalah dewasa.
Tiga Macam Gaya Menurut David Machin dan Theo van Leeuwen (2005)

Tiga macam Gaya   
  1.   Gaya Individual 
  2.   Gaya Sosial
  3.   Gaya Hidup

Dalam pembahasan ini saya akan memaparkan kesesuaian tiga macam gaya yang telah dibangun oleh Machine dan Leeuwen dengan melihat majalah – majalah dewasa yang ada di Indonesia. Saya tidak akan terlalu membahas Eklusif atau tidaknya pembahasan ini, karena ketika di Indonesia pada saat ini mengalami pergeseran gaya hidup bahkan berubah, mungkin harus ada rekontruksi teori baru dan praktek baru yang memang benar –benar bisa dikombinasikan dengan permasalan gaya hidup yang ada di negara kita yang di representasikan salah satunya  ke dalam majalah dewasa. Sehingga teori gaya hidup tersebut bisa mewakili suatu wilayah dimana mungkinsaja wilayah tersebut sudah banyak pengaruh ideologi dari negara lain, sehingga akan  ada sebuah relasi/ hubungan yang bisa menjadi bingkai di dalam teori tersebut untuk melahirkan sebuah praktek.
                Ketiga unsur dari gaya hidup tersebut sudah mampu mengartikulasikan juga membuat sebuah hubungan antara sebuah kebebasan yang bersifat indifidual dan penentuan sebuah status sosial,  bahkan ketiga unsur tersebut memiliki ranah dan jalan  yang berbeda. Ada satu hal yang menggelitik pikiran saya ketika saya membaca majalah- majalah dewasa yang diterbitkan di Indonesia yang saya dapatkan tersebut, yang membuat saya menggelitik bahkan tertarik adalah ketika majalah- majalah dewasa tersebut memiliki sebuah struktur yang sama dalan membangun sebuah wacana yang menghadirkan fitur konsumerisme, disana ada sebuah penghadiran dimana kita bisa mendapatkan pakaian pakaian dan produk-produk yang ditampilkan disana, yang memiliki sebuah makna yang terkait, seperti sebuah makna identitas dengan merasa bahwa produk yang ditampilkan disana mewakili ekspresi  siapa diri kita sebagai seorang individu. Anehnya di dalam waktu yang sama juga kesadaranpun muncul bahwa produk yang saya pilih dalam majalah tersebut adalah produk yang sama dikonsimsi atau digunakan oleh banyak orang yang ada di Indonesia bahkan di Dunia. Jadi tiga pendekatan gaya tersebut bisa menjadi sebuah sudut pandang yang bisa membantu kita untuk berfikir bagaimana tentang bagaimana cara ini bisa bekerja.

Ide dari gaya Individual yang telah diangkat oleh Machine dan Leeuwen  ini berangkat dari sebuah latar perbedaan individual. Gaya individual ini lebih menekankan bagaimana identitas gaya pada diri kita itu tetap hadir meski hal tersebut adalah buah hasil berbagai macam juga banyaknya  ideologi- ideologi yang masuk pada diri kita sehingga mampu membangun diri seseorang tersebut. Misalnya saja meskipun cara saya berbicara, bertingkahlaku dan menulis selalu sampai batas tertentu atau sebuah struktur yang sudah diatur secara sosial, tetapi biasanya ada sebuah ruang yang hadir yang menampilkan sebuah perbedaan individual, untuk melakukan sesutu dengan cara kita. Roman telah berkata di dalam jurnal tulisan Machine dan Leeuwen yaitu stilum virum arguit ( gaya mengumumkan/ menunjukan seorang pria ), Seperti halnya sebuah tulisan tangan yang sudah memiliki aturan atau ketetapan cara penulisannya secara baku, tetai setiap orang memiliki bentuk karakter huruf yang ditulisnya itu beragam atau berbeda-beda, sehingga tulisan tangan tersebut dapat dikenali individunya. Gaya individual juga memiliki sebuah peran yang sangat kuat dalam literatur seperti pada karya- karya seni rupa misalnya pada karya seni lukis dimana pada karya seni lukis setiap seniman atau pelaku seni memiliki karakter yang berbeda- beda yang merepresentasikan kesenimanannya meskipun itu disadari atau tidak oleh seniman tersebut.
                Menurut Guiraud yang dituliskan Machine dan Leeuween (2005) “The stylistics of expression is a study of the stylistic value of means of expression. There are expressive values which give away the feelings, desires, characteristics and social origin of the speaking subject, and there are impressive values which are deliberately produced and get across the impression the speaking subject seeks to creat”.  Dia menjelaskan tentang bagaimana stylistics of expression  itu hadir memberikan sebuah nilai- nilai ekspresi yang menawarkan sebuah kedekatan berupa perasaan, keinginan dan juga asal sosial orang tersebut sehingga bisa menimbulkan sebuah kesan terhadap orang lain.
                Seberapa bermaknakah gaya individual? Dalam tulisan Machine dan Leeuwen  di utarakan beberapa orang tidak. Bagi mereka, gaya individual adalah sebuah tanda dari identitas, sebuah jenis dari sidik jari, bahkan ketika mendengar bagaimana gaya bicara seseorang maka suara yang keluarnya tersebut sudah menjadi sebuah identitas dan sebuah penanda, gaya menulis bisa diketahui siapa penulisnya, gaya melukis bisa diketahui siapa pelukisnya juga yang lainnya. Dalam beberapa kasus keahlian atau keilmuan untuk mengetahui sebuah gaya individual itu sudah menjadi sebuah pekerjaan keahlian, misalnya para kurator seni, kritikus seni yang mengetahui bagaimana sebuah identitas atau makna dibalik karya seni yang akan di apresiasikan kepada publik atau kepada apresiator, juga seorang polisi bisa menyelidiki lebih dalam terhadap kasus yang sangat rumit untuk mencari kebenaran dalam polemik pencarian para kriminal.
                Seperti dalam majalah,  gaya mampu menghadirkan sebuah ideologi yang ditawarkan untuk para pembacanya. Sama halnya dengan sebuah identitas majalahpun memiliki sebuah tanda dan identitas. Meskipun kesamaan pada setiap majalah itu hadir dalam bingkai strukturalism, tapi makna tidak selamanya berada didalam kotak struktur tersebut, seperti sama halnya ketika orang menulis meskipun strukturnya sama tapi tindakan penulisannya itu akan melahirkan sesuatu yang berbeda. Jadi makna di dalam setiap majalah yang berada dalam sebuah struktur tersebut menghadirkan warna yang berbeda-beda yang dimana warna tersebut mampu merepresentasikan majalah tersebut. Misalnya saja kalau melihat majalah Femina dan majalah Kartini pada strukturnya sama saja, tetapi kedua majalah itu memiliki ideologi yang berbeda, femina menghadirkan bagaimana perempuan Indonesia secara umum tapi beda halnya dengan majalah Kartini, dimana majalah tersebut lebih menghadirkan karakter kearifan lokalnya.

Ide yang dihadirkan pada gaya sosial ini berangkat dari penentuan identitas sosial melalui gaya, wacana tersebut bersifat ekspresif, bukan permasalahan kepribadian dan bukan pula sebuah sikap individual seperti yang dijelaskan pada gaya individual, tetapi lebih mengarah pada bagaimana posisi sosial kita. Ketika saya beraktifitas, bekerja maka saya harus bisa memposisikan dri saya pada ruang sosial dimana saya berada. Selain sebuah kode etik sosial ada juga sebuah aturan sosial yang jelas dan mengikat yang mengarahkan kita untuk mengikuti aturan tersebut. Jadi pada dasarnya gaya sosial ini sudah jelas terlihat bahwa sebuah gaya tersebut lahir dari luar diri kita yang akan mendorong dam menjadi sebuah kontrol pada bagaimana kita bertindak.
                Banyak sekali majalah dewasa yang dihadirkan di masyarakat kita, tetapi majalah- majalah tersebut tidak sedikit yang berasal dari luar masyarakat kita atau lebih jelasnya dari luar negeri. Dengan demikian tidak bisa dipungkiri ideologi yang ditawarkan oleh majalah tersebut yaitu representasi sosial dimana majalah tersebut berasal. Saya disini mengambil sample majalah Bazar dan cosmopolitan, di majalah tersebut sangat jelas merepresentasikan tentang ras negaranya, setiap cover yang dicetak nya pasti menampilkan gaya sosial orang kulit putih dengan model orang kulit putih, meskipun sedah dialih bahasakan dan memuat wacana-wacana masyarakat negara tempat diterbitkannya. Meskipun demikian kuasa yang ada didalam majalah tersebut tidak sepenuhnya bisa terealisasikan , karena bagaimanapun juga sebuah relasi itu harus hadir, relasi disini yaitu ada sebuah kuasa lain diluar majalah tersebut yaitu hukum sosial  yang mengikat dan tegak yang tidakbisa lagi dikompromikanlagi. Jadi tetap saja bagaimanapun majalah dewasa yang terlahir dari luar begeri  itu hadir ditengah masyarakat kita, benang merah itupun akan senantiasa hadir.

Gaya hidup berperan lebih menggabungkan antara gaya individual dengan gaya sosial. Sikap dan kesamaan adalah kata kuci dari gaya hidup ini, misalkan kesamaan sikap didalam masalah lingkungan, kesamaan sikap didalam menanggapi polemik politik, kesamaan sikap dalam merespon tayangan yang ada di media sosial dan yang lainnya. Seperti kata Chaney di dalam tulisan Machine dan Leeuwen   mengatakan gaya hidup juga adalah sosial karena hal tersebut telah ditandai dengan penampilan, jadi hal itu tentang sikap, dan menyampaikan gaya dalam berpakaian dan berdandan, dekorasi, dan dalam hal lainnya.
                Berpenampilan selalu menjadi fokus utama didalam majalah dewasa, terlihat jelas ketika melihat cover majalah, maka akan terlihat bagaimana model tersebut berpenampilan dan bergaya seolah mengajak untuk membeli majalah tersebut. Seperti yang diucapkan oleh Bu Aquarini Priyatna dalam kuliahnya ketika membahas persoalan bagaimana produk mampu membeli seorang perempuan, disini tampak sangat jelas dimana orang membeli majalah dan majalah tersebut membeli orang khususnya membeli kuasa terhadap model yang akan dihadirkan oleh majalah tersebut.

Ketika saya melihat  gaya bahasa pada tulisan majalah-majalah  dewasa, dan juga ketika bagaimana sebuah majalah sebagai wujud gaya hidup, saya akan mempertanyakan hal yang sama seperti yang dipertanyakan  Machin dan leeuwee (2012:587) ”how can this style be described as a‘composite of connotations’, and what identities and values does it express?”  dan “ow diverse is this style? How does it negotiate between the individual and the social, or, in this case, the local and the global?”, karena pertanyaan tersebut sangat mewakili kegelisan pertanyaan-pertanyaan saya di wilayah gaya bahasa sebagai gaya hidup yang lebih global. Beragamnya gaya bahasa memiliki makna tersendiri juga memiliki ideologi tersendiri yang akan di konsumsi oleh para pembacanya. Yang membuat saya menarik dari pertanyaan tersebut adalah adanya sebuah relasi atau hubungan bagaimana bahasa individual dapat diterima oleh gaya bahasa masyarakat sosial juga bagaimana mengkorelasikan antara gaya bahasa yang bersifat lokal dan gaya bahasa yang bersifat global.
                Sebagaimana dikemukakan Machin dan Leeuwee (2012:587) bahwa “The principal styles on which Cosmopolitan draws are (1) the style of advertising, (2) the style of the fashion caption, (3) the style of expert discourse, (4) street style – the slang of the trendy, and the young; and (5) conversational style. These mix to different degrees with traditional magazine feature-writing style (the traditional, socially ‘appropriate’ style for magazines), in the same way that lifestyle dress may be combined with, or tempered by, for instance, traditional ‘white-collar’ work dress”. Disini telah diuraikan bagaimana membaca struktur gaya bahasa di dalam majalah dewasa. Memang disana Machin dan Leeuween memetakan struktur majalah  Cosmopolitan, tetapi menurut Yasraf Amir Piliang dalam kuliah umumnya tentang Hipersemiotika yang saya lihat di youtube, beliau mengatakan bahwa “semiotika strukturalisme adalah pandangan semiotika bahwa bahasa dan tanda dibangun oleh struktur yang tetap, mengikat, kesatuan (unity), berulang dan  tidak berubah, hal tersebut juga saya dapat pada ceramah Aquarini Priyatna pada saat perkuliahan Media, Ideologi, dan Politik Representasi mengungkapkan bahwa “ Acara televisi seperti Hitam Putih, Ini Talk Show ataupun Sarahsehan memang itu tayangan yang berbeda, tapi memiliki struktur yang sama”. Jadi pada dasarnya teori yang ditawarkan oleh Machin dan Leeuween ini mungkin bisa saja mewakili majalah-majalah dewasa yang beredar di Indonesia.

1.       Advertising Style
The style of advertising atau disebut juga sebagai gaya iklan, pada kenyataannya hal tersebut tidak hanya  untuk menjual sebuah produk dan jasa saja, dibalik itu atau lebih dalamnya lagi gaya iklan ini menghadirkan wacanal identitas dan nilai-nilai masyarakat konsumen. Aquarini Priyatna, beliau mengutarakan tentang bagaimana gaya iklan itu hadir di produk handphone yang bermerk sony ericson, visualisasi iklan tersebut memperlihatkan seorang perempuan yang seksi menggantungkan handphone tersebut pas dibelahan dadanya. Dalam iklan itu terdapat sebuah polemik handphone yang dibeli oleh masyarakat, tetapi dibalik itu ada perempuan yang dibeli oleh handphone itu. Dalam hal tersebut menunjukan bahwa peran iklan itu bukan hanya memperkenalkan atau menawarkan sebuah produk  dan jasa saja, tapi sudah menawarkan sebuah identitas dan ideologi terhadap publik. Secara lebih jelasnya lagi ketika saya membeli handphone tersebut maka seakan saya ada sebuah kedekatan atau hubungan dengan perempuan yang ada di dalam iklan yang dihadirkan tersebut.
               
Advertising Style pada majalah-majalah dewasa kerap kali disajikan , misalkan dalam satu majalah berapa merk produk kecantikan yang dihadirkan?, dalam satu majalah berapa merk baju yang ditawarkan? Meskipun pada umumnya majalah dewasa memiliki struktur isi  yang sama seperti Seksualitas,  pekerjaan, tokoh, kesehatan, ramalan,  fashion dan make up, disanalah advertising style berperan membangun dan memperkuat setiap struktur yang sudah dihadirkan tersebut.
Saya atau bahkan sejumlah orang lainnya memang sengaja, tapi kadang juga tidak sadar , memilih pakaian yang sesuai dengan representasi identitas dirinya. Yang saya maksud disini adalah gaya berpakaian, bukan cara berpakaianmenurut tren mode. Dengan gaya berpakaian kita dapat melihat mana seorang mahasiswa yang keilmuannya di bidang satra dan mana mahasiswa yang keilmuannya di bidang geologi. Dengan gaya berpakaian saya dapat melihat mana pejabat kampus, mana mahasiswa dan mana petugas kebersihan kampus.
Barthes dalam Machin dan Leeuwee (2012: 593) mengutarakan bahwa “the fashion caption is a ‘metalinguistic’ statement, an entry from an ongoing, constantly changing and playfully written dictionary of fashion. It links a signifier (an outfit, or an item of clothing, or some aspect of it, e.g. a colour) to a signified, in this case, to either or both of two kinds of signified: (a) the simple assertion ‘This is in fashion’, which can be phrased in a myriad of ways (e.g. ‘the season’s hottest’, ‘feel “fall 2002”, ‘the season must-have’), and/or (b) a meaning which either indicates, for instance, the type of activities or the time of day for which the outfit is suitable (‘a low-key date at the movies or a dive bar’), and/or a ‘mood’ or ‘personality trait’ (‘dramatic’, ‘passionate’, feeling cosy’, ‘foxy’, ‘sweet’, ‘sexy’, ‘lovely’). And it does so in a way which is ‘imperative’ (‘must have’) and inescapable, an edict that must be followed, yet at the same time playful and pleasurable (‘hottest hue’, ‘feel fall’, ‘look lovely on a low-key . . . ’), so that the fashion caption, like advertising style, is a proto form of ‘edutainment’, of learning what to do in a playful, pleasurable and entertaining way. Originally confined to actual fashion spreads, the style of the fashion caption, with its function of introducing people to the latest symbolic meanings of consumption goods, has now infiltrated many other domains, so as to connote, wherever it goes, the overriding importance of being in fashion and up to date with the latest”.
               Pada setiap majalah dewasa masing-masing majalah menghadirkan gaya bnerpakaian yang berbeda-beda, seolah menunjukan sebuah kelas dan identitas  tersendiri. Ketika saya melihat bagaimana gaya berpakaian di majalah Prodo, sangat jauh sekali ketika saya melihat gaya berpakaian yang terdapat dimajalah Bazaar. Prodo memperlihatkan bagaimana seorang perempuan bergaya pakaian yang menarik dan seksi, beda halnya dengan majalah Bazaar menampilkan gaya berpakaian yang merepresentasikan perempuan kelas atas.
               Setelah saya mengkaji tentang gaya bahasa dan gaya hidup pada beberapa majalah dewasa yang dihadirkan di Indonesia, pada akhirnya saya mengetahui betapa berpengaruhnya dampak dari sebuah majalah terhadap gaya hidup bahkan ideologi masyarakat pada dewasa ini. Tetapi ketika melihat perkembangan tekhologi yang begitu pesatnya, setelah banyaknya media baru yang ditawarkan terhadap masyarakat seperti halnya media sosial di internet. Apakah sebuah majalah akan tetap bertahan? Ataukah ada sebuah pergeseran bahkan evolusi pada tampilan majalah tersebut, sehingga membentuk sbuah struktur baru dan gaya hidup baru?




Daftar Pustaka
Machin,David. Leeuwen,Theo van. Juni 2005, “Language style and lifestyle: the case of a global magazine”. Media, Culture & Society

Leiliyanti,Eva.April 2009, “Konstruksi Identitas Perempuan dalam Majalah Cosmopolitan”. Perpustakaan Universitas Indonesia. http://lib.ui.ac.id/opac/themes/green/detail.jsp?id=20250598&lokasi=lokal, 16 Desember 2014

Jumat, 12 Desember 2014

M. Surya Gumilang Art Educations

 Belajar Seni Berarti Terjangkit Makna dan Nilai

Ketika pendidikan seni itu hadir di tengah perkembangan teknologi juga di ranah pendidikan formal ataupun nonformal, maka maka virus-virus makna dan nilai itu sangat cepat persebarannya. Ketika makna dan nilai tersebut sudah menjangkit ideologi peserta didik maka rekontruksi pendidikanpun akan lebih pleksibel menembus kotak kekakuan sistem pola fikir yang konfensional. Karena salah satu yang mampu menembus bingkai realitas yang sudah tidah realistis tersebut yaitu pendidikan seni yang memiliki formula intuisi untuk menyebarkan virus-virus tersebut.

Photo yang dihadirkan ini adalah sebuah wujud dari dampak atau akibat virus makna dan nilai itu menjangkit para peserta didik. Didalam photo ini mereka bukan melakukan simulasi pertunjukan teater, tapi mereka sedang berdiskusi tentang meteri  Seni Kontemporer, dan saya sebagai guru memperkenalkan  Performance Art dan melemparkan sebuah permasalahan tentang Performance Art tersebut. Ketika Permasalahn tersebut hadir maka kelaspun mulai masuk ke dunia absurd, secara sadar atau tidak disadari secara langsung mereka berdiskusi sambil  melakukan tindakan performance art, dan yang membuat saya kaget tidak ada satupun peserta didik yang tidak mengeluarkan pendapatnya tentang materi atau permasalahan yang saya lemparkan tersebut. Sehingga pada kenyataannya mereka senang dengan atmosfer baru yang hadir di kelas mereka.


Photo Dokumen Pribadi, proses tindakan pembelajaran seni yang saya lakukan.




Makna dan Nilai ini menurut sepengetahuan saya ini sangat perlu diterapkan terhadap permasalahan pesera didik. Karena kalau tidak ada kesadaran akan sebuah makna dan nilai tersebut maka pendidikan tidak akan mencapai sebuah kedalaman dan hanya akan  mati di kedangkalan yang tidak menghasilkan sebuahkualitas yang diatas standar. Misalkan saya ambil contoh yang saya kutip dari ceramah kuliah umum Pa Yasraf Amir Piliang, kata beliau kurang lebihnya: " pengertian Semiotika adalah ilmu tentang tanda,  sudah itu tidak ada masalah seperti anak SD yang hanya tau pengertiannya saja, tapi akan berbeda kalau mempertanyakan kembali secara lebih dalam, Apa itu Tanda?", di dalam ceramah tersebut tampak jelas bahwa sebuah kedalaman itu harus hadir agar tidak mati pada sebatas pengertian yang tidak ada permasalahannya sama sekali, dan kedalaman itu akan lebih padat kalau diisi dengan Makna dan nilai.
























Kata siapa belajar seni itu perlu biaya besar? kita lihat photo diatas, disana saya berphoto dengan anak-anak yang saya didik, yang memiliki kreativitas menembus kekakuan pada kata tukar rupiah. Kebetulan sekolah kami termasuk katakanlah sekolah kalangan ekonomi kelas bawah, tapi justru itu bagaimana caranya pendidikan seni itu menawarkan kreativitas yang memiliki keeklusifan yang mahal tapi bermodalkan sangat murah dan menyenangkan.

ini adalah beberapa photo kegiatan belajar yang saya berikan kepada peserta didik:







Belajar dasar-dasar seni lukis abstak sebagai perwujudan representasi mereka melalui bentuk-bentuk yang mewakili diri mereka, sehingga terlahir motif yang beragam









Garut tempat mereka tinggal itu memiliki artefak budaya yang luarbiasa, para peserta didik ini membuat seni kriya mimesis Candi Cangkuang dari medium limbah sterofoam















Nah ini namanya Nirmana 3Dimensi, dimana siswa mengolah bidang dan ruang dengan irama estetika yang mereka buat dari barang-barang bekas yang mereka temukan di sekitar kehidupan mereka, seperti pada photo tersebut mereka sedang mengolah medium paralon.










Studi Seni Sketsa yang dilakukan oleh para siswa ternyata melahirkan visual garis yang memiliki karakter yang beragam.













Menggambar berjamaah dalam satu kertas yang panjang membuat suasana kebersamaan dalam pendidikan seni lebih terasa.
















Teaterikal pun kerap dilakukan oleh para peserta didik untuk mengasah kepercayadirian mereka di depan publik.
















Seusai tutup semester peserta didik diwajibkan memamerkan hasil karyanya. photo disamping adalah suasana pameran wayang recycle yang dibuat oleh para peserta didik di ruang alternatif.













Mengisi aktifitas libur dengan bersenang-senang bermain cat sehingga melahirkan wujud visual yang tidak diduga oleh para peserta didik.















Performance art sudah menjadi aktifitas bermain untuk para peserta didik, dengan mengolah media-media yang bisa dieksplorasi oleh mereka














Mereka sedang memperkenalkan berbagai macam  kaulinan (permainan) khas sunda yang mereka alami sewaktu kecil dan saat ini hampir punah, dihadapan para mahasiswa dari Negara Korea Selatan.
























Ikut Berpartisipasi dalam Festival Teater Remaja tingkat SMA sederajat, menampilkan naskah Malam Jahanam karya Motinggo Boesje dan Orasi Superherro karya gabungan dari anak didik saya (Yafata Art Studio) yang mendapatkan Juara II, Naskah Terbaik, Aktor II Terbaik, Nominator Sutradara Terbaik dan Nominator Artistik Terbaik





























Pada dasarnya mengajar itu bukan hanya sibuk memikirkan metode pembelajaran saja, juga bukan masalah guru itu menguasai atau tidaknya pada materi ajarnya, tetapi sepengetahuan saya dan yang saya alami ada yang lebih penting dari itu semua "SEBERAPA PEDULIKAH KASIH SAYANG YANG DITAWARKAN KEPADA PARA PESERTA DIDIK??!!" itulah virus Makna dan Nilai yang saya hadirkan..  :)


Muhammad Surya Gumilang, S.Pd.
Garut, Indonesia

M. Surya Gumilang Sketch Painting




Sketsa ini dihadirkan sebagai wujud proses dari pengalaman estetika saya dimana pada setiap ruang dan waktu berubah. Mungkin benar saya tidak memiliki kekonsistenan bentuk atau ketetapan perwujudan pada kelahiran setiap karya yang saya buat,  tapi saya tidak ingin berbohong kepada diri saya kalau saya saat ini di ruang ini saya ingin mentranspormasikan diri saya terhadap media dengan suasana yang ada pada saat ini. Disini saya menghadirkan beberapa atau sebagian dari karya saya yang memang sering berubah-ubah, tapi saya yakinkan kalau ini karya yang jujur terlahir bukan dari tekanan dari luar diri saya, tapi murni atas dasar keinginan saya pribadi

Karya Sketsa Realis

Karya 1

































Judul     : Acha Septriasa
Media   : Pensil di Kertas A4
tahun     : 2014


Karya 2




































Judul     : Dewi Kunti
Media   : Pensil di Kertas A4
tahun     : 2014




Karya Sketsa Ekspresif

Karya 3






































Judul     : Hijabers
Media   : Oil Pastel di Kertas A4
tahun     : 2014




Karya 4



















Judul     : Kaki
Media   : Deawing Pen di Kertas
tahun     : 2014





Karya 5


































Judul     : Diam
Media   : Mix Media di Kertas A2
tahun     : 2013




Karya Sketsa Surealism

















Karya 6

Judul     : Feminism Eyes
Media   : Drawing Pen di Kertas A4
tahun     : 2014





















Karya 7

Judul     : Debat Iklan Obat
Media   : Drawing Pen di Kertas A3
tahun     : 2013




















Karya 8

Judul     : Membabi Tikus
Media   : Mix Media di Kertas A4
tahun     : 2013






Karya 9


























Judul     : Makan Tikus
Media   : BallPoint di Kertas A4
tahun     : 2010



Karya Sketsa Cartoon Character

Karya 10


























Judul     : Silaturahmi di Mall
Media   : Mix Media di Kertas A4
tahun     : 2014



Karya 11




















Judul     : Aw aw
Media   : Drawing Pen di Kertas A4
tahun     : 2014



Karya Sketsa Fashion

Karya 12









































Judul     : Moslem Fashion
Media   : Pencil di Kertas
tahun     : 2014










Saya fikir berkualitas atau tidaknya karya seni khususnya pada seni rupa bukan hanya di ukur oleh wujudnya saja, juga bukan dari ekspresi dan kedalamannya, juga bukan dari isi visi dan misinya saja, tetapi tapi harus ada kesatuan dari semuanya yang dibingkai oleh kejujuran bukan oleh politik representasi.
Terimakasih